Ad imageAd image

Perkembangan 5G di Indonesia Lambat. Apa Sebabnya?

Dimas Galih Windudjati

Pada tanggal 10 Juni 2024 bertempat di X-Camp gedung XL Axiata Tower lantai 20, XL Axiata mengadakan acara talk show. Acara tersebut merupakan sebuah diskusi dan sharing session tentang spektrum frekuensi. Ada topik menarik yang berkaitan dengan perkembangan 5G di Indonesia.

Pembangunan jaringan 5G di Indonesia tampaknya berjalan lambat. Ada beberapa alasan utama untuk hal tersebut. Pertama, besarnya spektrum yang akan digunakan untuk 5G. Saat ini, operator seperti XL, Indosat, Telkomsel, dan Smartfren memiliki akses ke berbagai frekuensi, mulai dari 850 hingga 2.300 MHz. Namun untuk 5G, minimal bandwidth yang dibutuhkan adalah 5 MHz.

Kedua, jumlah pelanggan yang dimiliki oleh masing-masing operator juga menjadi faktor. Misalnya, Telkomsel memiliki sekitar 150 juta pelanggan, sementara operator lain memiliki antara 50 hingga 90 juta. Dengan jumlah pelanggan sebanyak itu, alokasi spektrum yang ada mungkin belum cukup untuk memberikan layanan 5G yang optimal.

Selain itu, transisi dari 3G ke 4G membutuhkan waktu yang cukup lama, dan diperkirakan transisi ke 5G juga akan membutuhkan waktu yang sama. Meski demikian, 4G masih dibutuhkan dan tidak mungkin kita bisa melompat langsung ke 5G tanpa mempertimbangkan pengguna dan handset yang ada.

Investasi dalam 5G juga harus dipertimbangkan. Jika dipaksakan, bisa jadi investasi besar dikeluarkan tetapi tidak ada yang membeli karena ekosistemnya belum siap. Ekosistem 5G diharapkan datang dari industri praktikal, seperti pertambangan, namun ini membutuhkan waktu.

Studi menunjukkan bahwa frekuensi terbaik untuk 5G berada di mid-band, antara 2100 hingga 3500 MHz. Ini membutuhkan bandwidth yang cukup, setidaknya 100 MHz untuk memberikan pengalaman 5G yang baik. Namun, operator saat ini hanya memiliki sebagian kecil dari bandwidth ini.

Pembicaraan mengenai Perkembangan 5G

Misalnya, XL hanya memiliki 37,5 MHz di mid-band, sementara Telkomsel yang terbesar memiliki 92,5 MHz dan Indosat hanya memiliki 55 MHz. Smartfren bahkan hanya memiliki 40 MHz, yang tidak cukup untuk memberikan pengalaman 5G.

Akhirnya, kecepatan internet juga menjadi faktor penting. Saat ini, kecepatan internet di Indonesia rata-rata hanya sekitar 26 Mbps. Meski cukup untuk kegiatan seperti menonton YouTube atau bermain game, ini jauh dari kecepatan yang ditawarkan oleh 5G, yang bisa mencapai hampir 1 Gbps.

Namun, kebutuhan pelanggan juga harus dipertimbangkan. Misalnya, untuk menonton YouTube di layar kecil, hanya dibutuhkan kecepatan 5 Mbps. Jadi, meski 5G menawarkan kecepatan yang jauh lebih tinggi, pertanyaannya adalah apakah pelanggan benar-benar membutuhkannya?

Secara keseluruhan, perkembangan 5G di Indonesia memang lambat, tetapi ini bukan tanpa alasan. Diperlukan waktu, investasi, dan perencanaan yang matang untuk memastikan bahwa ketika 5G akhirnya diluncurkan, itu akan memberikan manfaat yang maksimal bagi semua pihak yang terlibat.

Share This Article
Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *