Kondisi pasar teknologi global sedang mengalami perubahan yang sangat besar pada tahun ini. Kenaikan harga komponen penting membuat produsen harus memutar otak lebih keras. Berdasarkan laporan terbaru, pasar kelas menengah ke bawah akan terkena dampak paling parah. Hal ini dipicu oleh lonjakan harga memori yang sangat tinggi di pasar global.
Lembaga riset Omdia merilis data mengejutkan mengenai masa depan industri perangkat pintar. Pengapalan smartphone global dengan harga di bawah 400 dolar AS diprediksi merosot tajam. Penurunan pada segmen ini diperkirakan mencapai lebih dari 22 persen secara tahunan. Secara keseluruhan, total pasar smartphone dunia juga diproyeksikan menyusut sekitar 12 persen.
Penyebab utama dari penurunan ini adalah meroketnya harga komponen DRAM dan NAND. Kedua jenis memori ini merupakan bagian vital dalam pembuatan sebuah perangkat smartphone. Biaya pengadaan komponen ini terus meningkat pesat dalam beberapa kuartal terakhir. Para analis memperkirakan tren kenaikan biaya ini masih akan terus berlanjut ke depan.
Lonjakan harga komponen memori tersebut kini menjadi beban yang sangat berat bagi produsen. Kenaikan ini terutama menekan produk smartphone kelas menengah dan kelas bawah yang murah. Bahkan, porsi biaya memori dalam struktur produksi melonjak hampir dua kali lipat. Kondisi ini tercatat memburuk sejak kuartal ketiga tahun lalu hingga awal tahun ini.
Jusy Hong menyatakan bahwa harga memori untuk perangkat mobile melonjak hingga 90 persen. Kenaikan drastis ini terjadi khusus pada kuartal pertama tahun ini di pasar global. Sekarang biaya memori mengambil porsi hampir 60 persen dari total biaya bahan baku. Angka ini berlaku untuk smartphone yang dijual di bawah harga 400 dolar AS.
Situasi ini bahkan terlihat jauh lebih ekstrem pada segmen yang sangat murah. Untuk smartphone dengan harga di bawah 99 dolar AS, porsinya melebihi 64 persen. Produsen smartphone harus memutar otak untuk mengatasi tekanan biaya yang sangat tinggi ini. Mereka mencoba mengurangi biaya dari komponen lain agar harga jual tetap masuk akal.
Komponen yang dikurangi biayanya antara lain adalah panel layar dan sensor perangkat. Mereka juga menekan biaya modul radio frekuensi demi mengimbangi mahalnya harga memori. Langkah ini bisa diambil karena pasokan komponen tersebut saat ini masih sangat melimpah. Namun strategi ini dinilai belum cukup untuk menyelamatkan margin keuntungan para produsen.
Analis Utama Omdia, Zaker Li, memprediksi bahwa situasi ini akan semakin memburuk. Harga memori diperkirakan masih akan terus mendaki dalam beberapa kuartal ke depan. Beberapa produsen besar seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo terpaksa menaikkan harga ritel. Merek lain seperti Transsion dan Honor juga mengambil langkah serupa demi bertahan hidup.
Langkah menaikkan harga jual ritel ini terpaksa diambil oleh perusahaan smartphone tersebut. Hal itu dilakukan hanya untuk menjaga margin keuntungan mereka yang sudah sangat tipis. Sayangnya, kebijakan menaikkan harga jual ini berpotensi memukul balik bisnis mereka sendiri. Permintaan konsumen diproyeksikan akan menurun secara signifikan akibat harga yang semakin mahal.
Konsumen pada segmen smartphone murah dikenal sangat sensitif terhadap perubahan harga produk. Kenaikan harga sedikit saja bisa membuat mereka menunda untuk membeli perangkat baru. Oleh karena itu, banyak produsen kini mulai mengubah arah strategi bisnis mereka. Fokus bisnis mereka sekarang mulai dialihkan ke produk kelas menengah ke atas.
Pergeseran fokus ini otomatis memperbesar pangsa pasar smartphone di atas 400 dolar AS. Kenaikan harga ritel secara terus-menerus mendorong produk masuk ke kategori lebih mahal. Untungnya, konsumen kelas atas dinilai tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga ritel. Kelompok pembeli ini membantu menjaga permintaan pasar premium tetap stabil dan kokoh.
Beban biaya komponen memori ini sendiri sebenarnya akan menyusut pada produk mahal. Terutama untuk perangkat smartphone dengan harga jual di atas 600 dolar AS. Pada segmen premium, komponen lain seperti prosesor dan kamera mengambil porsi terbesar. Tren polarisasi pasar ini tampaknya akan terus mewarnai industri smartphone global ke depan.
sumber: Omdia

