Intel baru saja mengguncang dunia teknologi dengan pernyataan berani dari CEO barunya, Lip-Bu Tan. Dalam pertemuan internal yang direkam dan ditinjau media, Tan mengakui bahwa Intel tak lagi berada di jajaran 10 besar perusahaan semikonduktor terkemuka. Pengakuan ini muncul di tengah gelombang PHK besar-besaran dan upaya perusahaan untuk berbenah secara struktur dan strategi.
Tan tidak berusaha menyembunyikan tantangan besar yang dihadapi Intel. Ia dengan jujur menyampaikan bahwa perusahaan terlalu tertinggal untuk bisa mengejar dominasi Nvidia di ranah teknologi pelatihan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, posisi Nvidia terlalu kokoh. “Saya rasa sudah terlambat bagi kita,” kata Tan soal persaingan AI.
Di masa lalu, Intel dikenal sebagai pemimpin industri. Namun kini, Tan menyebut perusahaan sudah kehilangan tajinya. Bukan hanya soal pasar GPU yang dikuasai Nvidia, tetapi juga masalah internal seperti proses pengambilan keputusan yang lambat dan struktur organisasi yang dinilai terlalu berat.
Langkah-langkah perampingan pun mulai dilakukan. Intel telah memulai PHK terhadap ribuan karyawan di berbagai lokasi, termasuk Oregon, California, Arizona, dan Israel. Tak hanya itu, bisnis otomotif ditutup, divisi pemasaran dialihdayakan, dan hingga 20% dari operasional manufaktur akan dipangkas. Intel juga mengisyaratkan bakal melakukan efisiensi di berbagai unit lain.
Meski menghadapi tekanan berat, Tan masih melihat peluang di ranah AI. Ia mengarahkan fokus pada “edge AI,” teknologi yang membawa kemampuan AI langsung ke perangkat seperti PC, bukan hanya terpusat di server. Selain itu, Intel tertarik dengan “agentic AI,” bidang baru yang memungkinkan sistem AI bekerja secara mandiri tanpa instruksi manusia yang terus-menerus.
Tan menyebut bahwa beberapa wakil presiden baru yang diangkat bulan lalu akan membantu membawa Intel ke arah tersebut. Ia pun menyatakan bahwa masih ada perekrutan lanjutan dalam waktu dekat. “Tunggu saja,” katanya sambil memberi sinyal optimisme.
Di sisi manufaktur, Intel tengah mempersiapkan proses produksi chip 18A yang digadang-gadang mampu menyaingi Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC). Meski sebelumnya sempat berharap bahwa teknologi ini akan menarik minat dari perusahaan lain, kenyataannya belum ada kemajuan signifikan. Reuters bahkan melaporkan bahwa Tan bisa saja menghentikan upaya pemasaran 18A sebagai solusi produksi eksternal, dan lebih fokus pada generasi selanjutnya: 14A.
Namun Tan menegaskan prioritas utama Intel saat ini adalah memastikan bahwa chip 18A mampu memenuhi kebutuhan internal mereka terlebih dahulu. Setelah itu, barulah mereka akan membuka peluang untuk 14A sebagai frontier baru.
Pernyataan Lip-Bu Tan memang keras, tetapi ia tetap menekankan pentingnya kerendahan hati. Ia mendorong semua karyawan Intel untuk mendengarkan pelanggan dan merespons kebutuhan pasar dengan lebih gesit. Perubahan besar sedang digerakkan, dan masa depan Intel masih terbuka lebar. Tinggal bagaimana eksekusinya.
Kalimat “kami tidak ada di 10 besar” bukan hanya alarm, tapi juga pemantik untuk pembaruan menyeluruh di tubuh perusahaan yang dulu pernah mendominasi dunia chip.
Sumber: Oregonlive