Ketegangan antara Taiwan dan China kembali memanas. Kali ini, pemicunya adalah keputusan Taiwan untuk membatasi ekspor teknologi ke ratusan perusahaan asal China. Dalam daftar tersebut tercatat dua nama besar, Huawei dan SMIC, pemain kunci dalam industri semikonduktor.
Langkah ini diambil setelah Taiwan melakukan peninjauan kebijakan ekspor lintas lembaga. Tujuannya, menyesuaikan diri dengan regulasi kontrol ekspor yang diterapkan oleh AS dan sekutu-sekutunya. Akibatnya, perusahaan di Taiwan kini wajib mengantongi izin ekspor sebelum bisa memasok barang atau jasa ke entitas yang masuk daftar hitam tersebut.
Pemerintah China bereaksi keras atas kebijakan ini. Lewat juru bicara Kantor Urusan Taiwan di Dewan Negara, Zhu Fenglian, China menyebut langkah Taiwan sebagai tindakan “hina yang sungguh tercela.” Dalam pernyataannya yang dikutip media pemerintah, ia mengatakan pihaknya akan mengambil langkah tegas untuk melindungi kepentingan ekonomi dan kesejahteraan warga di kedua sisi Selat Taiwan.
Apa saja langkah balasan yang dimaksud? Belum ada rincian resmi. Namun beberapa analis memperkirakan China punya banyak opsi. Misalnya, memperketat ekspor bahan tambang langka ke Taiwan, membatasi operasional perusahaan Taiwan di daratan China, hingga menyetop impor produk non-teknologi dari pulau tersebut.
Di balik ketegangan diplomatik ini, ada cerita yang lebih luas. China saat ini tengah menggencarkan produksi chip dengan teknologi node matang. Strateginya jelas: membanjiri pasar global dengan chip murah untuk menekan produsen kecil asal Taiwan, seperti PSMC, Vanguard, dan UMC. Jika berhasil, ini bisa menjadi pukulan telak bagi ekosistem semikonduktor Taiwan yang selama ini sangat tergantung pada pasar ekspor.
Pihak China juga menuduh langkah Taiwan sebagai bentuk “blokade teknologi.” Mereka menyatakan upaya ini tak akan mampu menghentikan laju kemajuan industri di daratan utama. “Setiap upaya untuk memisahkan ekonomi dan merusak kerja sama lintas selat hanya akan menyempitkan ruang pertumbuhan Taiwan sendiri,” ujar Zhu.
Situasi ini diperumit oleh riwayat panjang ketegangan antara dua pihak. Sejak Huawei dilarang mengakses teknologi TSMC pada 2020 akibat sanksi AS, perusahaan itu semakin bergantung pada pemasok lokal. Meski begitu, peran Taiwan masih vital dalam rantai pasok Huawei.
Apa yang akan terjadi selanjutnya belum jelas. Tetapi yang pasti, dunia kini menyaksikan bagaimana geopolitik dan teknologi saling bertubrukan, menciptakan ketidakpastian baru bagi industri global.
Sumber: Tomshardware