Penjualan Snapdragon dan MediaTek Anjlok di 2026 Akibat Harga RAM

Pasar komputasi seluler global sedang mengalami masa sulit pada paruh pertama tahun 2026. Dua raksasa pembuat chipset ternama terpaksa menelan pil pahit akibat penurunan angka penjualan. Pengiriman produk Snapdragon dari Qualcomm dan lini buatan MediaTek merosot anjlok sangat tajam. Fenomena ini menggambarkan betapa lesunya industri teknologi pada enam bulan pertama tahun ini.

Berdasarkan data lembaga riset Counterpoint, total pengiriman SoC smartphone global menyusut lima belas persen. Namun tekanan paling berat justru menghantam dua vendor papan atas pasar teknologi tersebut. Angka pengiriman lini Snapdragon milik Qualcomm terperosok lebih dari dua puluh lima persen. Nasib serupa juga dialami oleh MediaTek yang mencatatkan penurunan volume pada tingkat serupa.

Meskipun penjualannya merosot tajam, MediaTek masih bertengger di posisi puncak penguasa pasar. Produsen asal Taiwan ini berhasil mengamankan pangsa pasar sebesar tiga puluh dua persen. Qualcomm menyusul pada urutan kedua dengan mengantongi porsi sebesar dua puluh dua persen. Sisa pangsa pasar diisi oleh Apple, Unisoc, Samsung Exynos, serta beberapa pemain kecil.

Penyebab kemunduran bisnis penjualan dua raksasa ini rupanya dipicu oleh faktor yang berbeda. MediaTek terhantam keras pada segmen produk murah dan platform kelas pemula berteknologi lima G. Biaya produksi yang membengkak membuat para produsen menunda pesanan chip secara signifikan. Banyak merek bahkan memilih kembali memakai chipset empat G yang harganya jauh lebih terjangkau.

Qualcomm justru mengalami hambatan besar pada segmen pasar smartphone kelas atas atau unggulan. Seri flagship Samsung Galaxy S26 tahun ini tidak lagi menggunakan Snapdragon secara eksklusif. Pembuat perangkat asal Korea Selatan tersebut membagi pesanan dengan chip Exynos 2600 buatan sendiri. Penggunaan ganda ini membuat Qualcomm kehilangan porsi pesanan dalam jumlah yang cukup masif.

Biang kerok utama dari kekacauan pasar ini adalah lonjakan harga chip memori internal. Pada kuartal kedua tahun ini, harga komponen memori melonjak tajam melebihi tiga ratus persen. Kenaikan ekstrem ini membuat biaya memori membengkak melampaui harga komponen SoC utama smartphone. Struktur modal pembuatan perangkat keras pun menjadi berantakan karena pergeseran biaya bahan baku.

Para produsen smartphone terpaksa memangkas anggaran pembelian komponen akibat margin keuntungan yang menipis. Mereka sengaja menunda jadwal peluncuran produk baru demi menjaga stabilitas keuangan perusahaan. Keputusan rasional tersebut berdampak langsung pada penurunan pesanan chipset secara nasional maupun global. Snapdragon dan MediaTek pun terpaksa menanggung akibat dari penyesuaian strategi para mitra bisnis.

Proyeksi hingga akhir tahun 2026 memperkirakan total pengiriman SoC akan turun empat belas persen. Penurunan pada segmen smartphone kelas bawah bahkan diprediksi mampu menembus angka tiga puluh persen. Kondisi pasokan memori diperkirakan baru akan kembali pulih pada paruh kedua tahun 2027. Tekanan biaya industri manufaktur dipastikan bakal berlangsung relatif lama hingga tahun depan berakhir.

Persaingan antara Snapdragon dan MediaTek ke depan diprediksi akan semakin sengit dan penuh tantangan. Kedua perusahaan harus mencari jalan keluar untuk mengembalikan pertumbuhan volume penjualan yang tertahan. Penyesuaian strategi harga menjadi kunci penting dalam menghadapi tingginya biaya produksi memori global. Konsumen tentu menantikan langkah terobosan dari kedua pemain utama ini untuk pasar smartphone.

Sumber: MyDrivers

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *