Perusahaan OpenAI dan Anthropic baru saja mempublikasikan hasil survey dan riset yang menunjukkan bahwa penggunaan alat-alat AI dalam lingkungan kerja bisa meningkatkan efisiensi secara signifikan. Dalam laporan berjudul “The State of Enterprise AI 2025”, OpenAI mengungkap bahwa dari survei terhadap 9.000 pekerja di sekitar 100 perusahaan, mayoritas melaporkan adanya peningkatan kecepatan atau kualitas kerja. Sekitar 75 persen responden menyatakan hasil kerja mereka lebih baik sejak memakai AI. Rata-rata waktu yang “tersisa” pun cukup signifikan: sekitar 40–60 menit lebih sedikit digunakan untuk tugas rutin harian.
Lebih detail, dampak positif itu terasa di banyak departemen. Di sektor IT, 87 persen pekerja melaporkan penyelesaian masalah dilakukan lebih cepat. Tim pemasaran dan produk menyebut kampanye bisa dijalankan dengan lebih gesit, 85 persen responden mengaku demikian. Bagi para insinyur, 73 persen mengatakan bahwa mereka bisa mengirimkan kode lebih cepat dari sebelumnya.
Tak hanya mempercepat tugas rutin, AI bahkan memungkinkan pekerja mengerjakan hal-hal yang sebelumnya sulit dijangkau. Sekitar tiga perempat responden mengatakan mereka bisa melakukan tugas baru yang semula di luar kemampuan mereka. Hal ini membuka potensi kerja dengan cakupan lebih luas dan beragam.
Sementara itu, laporan internal dari Anthropic menunjukkan bahwa penggunaan asisten AI milik mereka, Claude, mengurangi durasi penyelesaian tugas komunitas pekerja secara dramatis. Menurut data dari 100.000 interaksi, tugas yang biasanya memakan waktu sekitar 90 menit bisa diselesaikan dalam 18 menit saja. Temuan ini mendukung klaim bahwa AI dapat memangkas waktu kerja cukup besar.
Namun riset ini datang di tengah kritik dan hasil studi yang lebih skeptis. Sebagai pembanding, terdapat penelitian yang menyatakan bahwa penerapan chatbot AI di banyak kantor hanya memberi penghematan kecil — rata-rata 2,8 persen dari total jam kerja. Di banyak kasus, penggunaan AI pun tidak sebanding dengan peningkatan upah atau jam kerja yang tercatat.
Dengan demikian, klaim efisiensi oleh OpenAI dan Anthropic bukan tanpa kontroversi. Ada pertanyaan tentang apakah waktu yang “tersisa” benar-benar dialihkan ke pekerjaan produktif, atau sekadar membantu menyelesaikan tugas monoton. Meski demikian, bagi perusahaan yang mencari alasan untuk terus mendanai platform enterprise-AI, hasil riset baru ini menjadi senjata penting.
Di tengah pertumbuhan cepat adopsi AI di dunia kerja, dua perusahaan ini tampak ingin menegaskan satu hal: bahwa AI bukan hanya “mainan futuristik”, tapi alat nyata untuk mempercepat dan memperluas kapasitas kerja. Waktu akan menunjukkan apakah janji ini bisa dipenuhi di skala luas atau sekadar hype sesaat.
sumber: Tomshardware
