Pasar Memori Dunia Alami Krisis Langka, ADATA: AI Terdampak

Industri semikonduktor global kembali berguncang. Chairman ADATA Technology, Simon Chen, mengungkapkan bahwa pasar memori dunia kini menghadapi krisis pasokan yang jarang terjadi. Menurutnya, untuk pertama kalinya empat lini utama, yaitu DRAM, NAND, dan HDD, mengalami kekurangan secara bersamaan.

Chen menjelaskan, gelombang besar permintaan dari sektor kecerdasan buatan menjadi pemicu utama situasi ini. Ledakan kebutuhan perangkat AI membuat persediaan bahan baku menipis drastis di tingkat produsen utama. “Tiga produsen besar kini sudah seperti kehabisan bahan baku,” ujar Chen dalam wawancara usai menghadiri konferensi pers film Team Fantastic.

Ia menegaskan, kelangkaan DDR4 akan menjadi paling parah di antara semua jenis memori. Alasannya, proses produksi DDR4 yang sudah banyak dihentikan tidak mudah dihidupkan kembali. ADATA memperkirakan harga kontrak DDR4 bisa naik antara 20 hingga 30 persen mulai kuartal keempat tahun ini hingga pertengahan 2026. Kenaikan harga pasar bebas bahkan diperkirakan lebih tinggi lagi.

Chen menambahkan, DDR5 juga mengalami tren kenaikan, meski tidak secepat DDR4. Sementara itu, kelangkaan NAND diperkirakan berlanjut hingga semester pertama tahun depan. Kondisi tersebut terjadi karena pabrikan HDD mengambil pesanan secara konservatif sambil berusaha mengosongkan stok lama.

“Sekarang kami tidak lagi bersaing dengan sesama perusahaan modul memori, melainkan dengan raksasa layanan cloud seperti AWS dan Google,” ujar Chen. Ia menyebut OpenAI, Microsoft, dan berbagai penyedia cloud besar lainnya telah menandatangani kontrak senilai miliaran dolar untuk pengadaan server AI. Langkah itu mendorong lonjakan tajam permintaan HBM dan DRAM, sehingga kapasitas produksi difokuskan pada produk berorientasi AI yang lebih menguntungkan.

Chen menegaskan, permintaan dari sektor AI bersifat mendesak dan stabil. Berbeda dari pasar konsumen biasa, permintaan ini tidak bisa ditunda atau dibatalkan. Karena itu, ADATA kini mengalami keterbatasan suplai meski telah menambah pembelian lebih awal. Perusahaan bahkan harus mengatur distribusi agar stok tersisa hanya untuk pelanggan utama.

Krisis pasokan ini, lanjut Chen, menandai dimulainya apa yang disebut “supercycle” di industri memori. Ia menilai, tren kebutuhan AI telah memutus pola siklus ekonomi konvensional yang biasanya berlangsung tiga hingga empat tahun. “Kali ini, masa pertumbuhan akan jauh lebih panjang,” katanya. Ia memprediksi periode 2025 hingga 2026 akan tetap berada di fase pasar bullish dengan permintaan tinggi.

Dua produsen besar asal Korea, yakni Samsung dan SK Hynix, disebut telah mencatatkan keuntungan tinggi tahun ini dan berpotensi mencapai rekor baru tahun depan. Chen menilai perubahan struktur harga dan mekanisme pasar akibat kelangkaan ini akan membentuk tatanan baru industri memori. “Dalam tiga puluh tahun karier saya, ini pertama kalinya semua jenis memori kekurangan stok bersamaan,” ujarnya.

Selain membahas situasi pasar, Chen juga mengonfirmasi bahwa proses akuisisi perusahaan modul memori Likron telah mencapai kesepakatan. Ia tidak menutup kemungkinan untuk bergabung langsung ke jajaran dewan direksi perusahaan tersebut. Sinergi antara ADATA dan Likron, menurutnya, akan memperkuat kapasitas produksi di Eropa dan Tiongkok, menciptakan efisiensi manufaktur yang signifikan.

Sumber: CTEE

Share This Article
Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *