Gebrakan teknologi kembali datang dari markas besar OpenAI di San Francisco pada akhir Januari 2026. Perusahaan kecerdasan buatan tersebut secara resmi memperkenalkan produk terbarunya yang diberi nama Prism. Platform ini hadir sebagai ruang kerja digital yang dirancang khusus untuk kebutuhan komunitas ilmiah. Peluncuran ini menandai langkah serius OpenAI dalam merambah sektor penelitian dan pengembangan akademis.
Selama ini, para ilmuwan sering terjebak dalam alur kerja yang sangat terfragmentasi dan melelahkan. Mereka harus berpindah-pindah antara editor teks, pengelola referensi, dan aplikasi komunikasi secara terus-menerus. Proses manual semacam ini sering memecah konsentrasi dan meningkatkan risiko kesalahan dalam penulisan data. Prism hadir sebagai solusi menyeluruh untuk menyatukan semua elemen tersebut dalam satu tempat.
Sistem canggih ini dibangun di atas fondasi teknologi model bahasa terbaru bernama GPT-5.2. Model ini dirancang memiliki kemampuan penalaran logika yang jauh lebih tajam dibandingkan versi sebelumnya. Prism tidak hanya sekadar memperbaiki tata bahasa dalam naskah yang sedang disusun pengguna. Asisten cerdas ini juga mampu memahami struktur argumen ilmiah yang kompleks secara mendalam.
Platform ini sejatinya merupakan editor berbasis LaTeX yang beroperasi sepenuhnya di komputasi awan. Pengguna tidak perlu lagi repot melakukan instalasi perangkat lunak yang berat di komputer lokal. Pendekatan ini menghilangkan hambatan teknis yang sering dialami pemula saat baru belajar menggunakan LaTeX. Siapa pun kini bisa membuat dokumen dengan format standar industri tanpa perlu menghafal kode rumit.
Salah satu keunggulan utama Prism terletak pada pemahaman konteks dokumen yang sangat menyeluruh. Kecerdasan buatan di dalamnya dapat membaca hubungan antara teks, gambar, dan persamaan matematika. Pengguna bisa mengajukan pertanyaan spesifik tentang konsistensi data dalam grafik terhadap kesimpulan yang ditulis. Hal ini berbeda dengan antarmuka obrolan biasa yang sering melupakan konteks dokumen panjang.
Fitur konversi visual menjadi salah satu daya tarik yang paling menonjol dari layanan ini. Peneliti dapat memotret diagram atau rumus di papan tulis menggunakan kamera smartphone mereka. Prism akan mengubah foto tersebut menjadi kode digital yang rapi dan siap publikasi. Proses digitalisasi catatan ide dari ruang rapat kini bisa dilakukan dalam hitungan detik.
Urusan mencari dan mengelola sumber referensi kini tidak lagi menjadi beban berat bagi penulis. Platform ini terhubung langsung dengan repositori ilmiah terkemuka untuk membantu penelusuran literatur yang relevan. Sistem dapat menyarankan sitasi yang tepat dan memformat daftar pustaka secara otomatis sesuai standar. Peneliti bisa fokus pada substansi tulisan tanpa pusing memikirkan gaya penulisan kutipan.
Kolaborasi riset lintas negara kini dapat dilakukan secara waktu nyata tanpa hambatan teknis berarti. Prism memungkinkan jumlah kolaborator tak terbatas untuk bekerja dalam satu dokumen proyek yang sama. Mahasiswa dan dosen pembimbing dapat menyunting naskah bersamaan layaknya bekerja di dokumen Google Docs. Setiap perubahan dan komentar akan muncul seketika sehingga mempercepat proses revisi naskah.
Kabar paling menggembirakan dari peluncuran ini berkaitan dengan skema harga yang ditawarkan perusahaan. OpenAI memutuskan untuk menggratiskan layanan Prism bagi semua pemilik akun ChatGPT personal tanpa terkecuali. Pengguna tidak akan dikenakan biaya langganan sepeser pun untuk menikmati fitur canggih tersebut. Kebijakan harga Rp 0 ini berlaku tanpa adanya batasan jumlah proyek yang dibuat.
Keputusan menggratiskan layanan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk mendominasi pasar alat riset. OpenAI tampaknya ingin menurunkan hambatan akses teknologi bagi peneliti di seluruh dunia. Siapa saja kini memiliki kesempatan yang sama untuk menghasilkan karya ilmiah berkualitas tinggi. Demokratisasi alat riset ini diharapkan mampu memacu percepatan inovasi di berbagai bidang ilmu.
Perusahaan juga berencana menghadirkan versi khusus untuk segmen bisnis dan pendidikan di masa depan. Versi korporat tersebut kemungkinan akan dilengkapi dengan fitur keamanan dan manajemen tim yang lebih lengkap. Namun untuk saat ini, fokus utama mereka adalah adopsi pengguna secara masif.
Sumber: OpenAI

