Samsung kembali mengguncang panggung teknologi dengan rencana peluncuran smartphone lipat model baru. Setelah sebelumnya sukses dengan seri Fold dan Flip, kini raksasa teknologi Korea Selatan tersebut bersiap memperkenalkan smartphone tri-fold. Targetnya? Akhir tahun ini.
Hal ini diungkapkan langsung oleh Roh Tae-moon, kepala divisi Device Experience Samsung. Dalam konferensi pers usai acara Galaxy Unpacked di Brooklyn, New York, ia menjelaskan bahwa desain perangkat terus berevolusi mengikuti kebutuhan pengguna di era kecerdasan buatan. Ia menekankan bahwa smartphone kini bukan sekadar alat komunikasi, tapi sudah menjadi mitra AI yang memahami dan merespons pengguna secara real-time.
Pengembangan bentuk perangkat pun menjadi prioritas. Samsung telah mengurangi ketebalan Galaxy Z Fold 7 menjadi hanya 8,9 milimeter saat dilipat dan 4,2 milimeter saat terbuka. Inovasi ini diklaim sebagai langkah menuju generasi smartphone masa depan. Dan jika menilik roadmap yang sempat dibocorkan awal tahun, perangkat tri-fold tampaknya menjadi kandidat paling realistis.
Meski belum ada nama resmi, rumor menyebut smartphone ini akan menyandang label Galaxy G Fold. Namun, Roh membantah nama itu sudah final. Ia menambahkan bahwa timnya masih fokus menyempurnakan desain dan kegunaan perangkat, serta akan mengambil keputusan terkait nama jelang waktu peluncuran.
Ketika ditanya soal pasar, Roh mengingatkan bagaimana skeptisnya industri saat Samsung memperkenalkan smartphone lipat pertamanya di tahun 2019. Tapi kini, segmen tersebut telah menjadi arus utama. Ia pun mendorong kompetitor lain untuk ikut ambil bagian, karena menurutnya kompetisi adalah bahan bakar inovasi.
Dalam sesi yang sama, Samsung juga memamerkan Galaxy Z Flip 7. Menariknya, perangkat ini akan mengusung chipset buatan sendiri, Exynos 2500, untuk pasar global. Padahal, seri flagship sebelumnya yaitu Galaxy S25 justru menggunakan Snapdragon dari Qualcomm.
Keputusan ini sempat menimbulkan keraguan di kalangan konsumen, terutama mengingat Exynos pernah absen di Galaxy S23 dan S25. Namun Roh menjelaskan bahwa keputusan pemakaian chipset bukan semata berdasarkan performa benchmark. Menurutnya, validasi menyeluruh bersama tim dan mitra menjadi dasar utama—yakni seberapa baik chipset bekerja dengan ekosistem Galaxy.
Lebih jauh, Roh juga menyinggung visi Samsung terkait kecerdasan buatan. Ia mengatakan bahwa Galaxy AI akan tersedia di 400 juta perangkat Galaxy hingga akhir tahun, termasuk model lama seperti seri Galaxy A, selama tidak ada kendala dari sisi spesifikasi.
Artinya, pengguna Samsung akan merasakan pengalaman AI yang lebih luas, tanpa harus membeli perangkat terbaru. Ini sejalan dengan filosofi “AI untuk semua” yang diusung perusahaan.
Sumber: KoreaTimes